Pater Jennissen lahir pada 21 Desember 1852 di Peij dekat Echt (L). Ia memasuki novisiat Serikat Jesus pada 26 September 1874 saat berusia 22 tahun. Pendidikan filsafat dan teologinya dimulai di Maastricht, kemudian dilanjutkan di Lainz, dekat Wina. Ia ditahbiskan menjadi imam pada 8 September 1887, dan mengucapkan kaul akhir pada 19 April 1891.
Tak lama setelah itu, ia tiba di Indonesia, tepatnya di Tanjung Sakti, Bengkulu, pada 3 Februari 1891, menggantikan Pater van Meurs, yang harus meninggalkan Bengkulu karena sakit. Pater Jennissen aktif berkarya di Bengkulu hingga 1912, saat paroki mengalami perkembangan pesat meski berada di tengah pengaruh Islam yang kuat serta berbagai oposisi.
Di Bengkulu, ia membangun gereja kecil yang tertata rapi. Namun, gereja tersebut sempat hancur akibat gempa bumi pada 1900-an. Berkat bantuan para dermawan dari Hindia Belanda dan Negeri Belanda, gereja akhirnya berhasil dipugar. Selama bertugas, ia sering melakukan perjalanan ke Bengkulu dan Palembang, serta selalu melaporkan kunjungannya dalam Claverbond.
Ketika dipindahkan ke Semarang, ia mengambil cuti. Saat itulah penyakit mata mulai mengganggunya, yang kelak membuatnya tidak dapat lagi menjalankan tugas resmi. Setelah kembali dari Belanda, ia ditempatkan di Yogyakarta, kemudian Bogor, sebelum akhirnya menetap di Muntilan, ketika penglihatannya semakin menurun. Di sana, ia mengabdikan diri bagi para pemuda yang sedang belajar, serta merayakan Golden Jubilee pada tahun 1924.
Riwayat Penugasan
| Paroki Tanjung Sakti | Bengkulu | 1891-1898 |
| Paroki Padang | Padang | 1989-1901 |
| Paroki Tanjung Sakti | Bengkulu | 1901-1912 |
| Paroki Gedangan | Semarang | 1912-1913 |
| Cuti (Istirahat) | Belanda | 1913-1915 |
| Paroki Gedangan | Semarang | 1915-1916 |
| Paroki Kidulloji | Yogyakarta | 1916-1917 |
| Paroki Bogor | Bogor | 1917-1920 |
| Educatio | Muntilan | 1920-1925 |
Pada 1 Juli 1925, Pater Jennissen dibebastugaskan dan menetap di Muntilan. Ia menderita kebutaan hampir total selama beberapa tahun, dan dalam beberapa bulan terakhir sebelum wafat, ia menanggung penyakitnya dengan penuh kesabaran. Ia meninggal pada 7 Februari 1927 dan dimakamkan di Kerkof Muntilan.